Menilik Lahirnya Mosi Tak Percaya Digedung DPRD Kabupaten Solok Yang Berujung Kisruh

Oky Adhadi : Wartawan Muda


 Ruang publik di Kabupaten Solok terlanjur dihiasi kekisruhan. Siapa yang benar dan siapa yang salah sampai saat ini rakyat masih dibuat binggung. 


" Ekonomi alah payah nan pemimpin gilo batangkase ' Kecek si A Iyo yang bana. Nan Kecek B Iyo pulo yang batua, " Ruang publik kini berisi berbagai tangapan dan komentar pedas. 


Begitulah dinamika politik pasca terjadinya kerusuhan pada saat pembahasan RPJMD tahun 2021-2026 diruang rapat Gedung Rakyat Aro Suka. 


Kejadian sungguh diluar nalar masyarakat yang indak basakolah pasalnya tampek itu diisi Wakil- Wakil rakyat yang berpendidikan sarato banyak kelebihan. 


" Kalaulah Wakil rakyat tampek mangadu yang bacakak kama badan rakyat kaditompangan lai, " Tulis sebuah akun yang ikut mengomentari video kisruh yang beredar luas disejumlah laman youtube. 


Kisruh di gedung DPRD saat pembahasan RPJMD 2021-2026, terjadi Rabu(18/8) lalu. 


Miris ! kisruh tersebut terjadi malah disaat, setelah satu hari bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Disaat Persatuan dan Kesatuan dibingkai kembali, mengingat beratnya bangsa ini mendapat kemerdekaan. 


Kisruh tak lagi berupa ketegangan suara yang dibawa Wakil rakyat dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Seperti hujan instrupsi yang biasa terjadi. 


Aksi lempar asbak, saling serang sesama anggota dewan itulah yang terekam lensa dengan jelas. 

Ada apa Wakil rakyat disana berbagai video dilaman youtube disajikan dengan judul yang beragam pula.

 

Keributan betul-betul pecah. Mosi tak percaya kepada Dodi Hendra selaku ketua DPRD diduga menjadi polemik penyulut dibalik situasi tersebut. 


Kursi Ketua itu tak lagi sakti. Dodi Hendra dengan posisinya sebagai ketua DPRD Kabupaten Solok digoyang. 


Siapa yang mengoyang ? 

Kursi jatah gerindra sebagai pemenang pemilu di Kabupaten Solok ternyata bukan digoyang dari luar saja. 

Partai Gerindra sendiri ternyata ikut 'Menukangi' mosi tak percaya meski dalam perjalanannya tanda tangan yang ikut dibubuhi partai gerindra akhirnya dicabut. 


Hal itu turut dibenarkan Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Solok Harif Haniz dalam sebuah acara dialog yang dikemas salah satu TV lokal.


Menurutnya, mosi tak percaya itu berangkat dari kesepahaman hingga berujung petisi. 


Pemahaman itu pulalah yang melahirkan tanda tangan dan kemudian dua hari berselang Gerindra menarik diri karena ada perintah dari DPD Gerindra untuk menarik mosi tak percaya. 


Benar memang kalau itu dilakukan Gerindra terhadap kader sendiri tak ubahnya  menampar mungka sendiri.


Pernyataan Hanif Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Solok dalam Dialog di TV lokal dalam laman youtube padang TV dengan judul Kisruh Bupati Solok VS Ketua DPRD, mau dibawa kemana? turut meluruskan kabar yang berkembang termasuk membenarkan Gerindra turut ' menukangi' lahirnya mosi tak percaya, berangkat terjadi kesepahaman anggota DPRD. 


Dalam dialog itu, hadir pimpinan Wakil Bupati Jon Firman Pandu, Wakil pimpinan DPRD Ivoni Munir, Ketua Fraksi Gerindra Hanis Hanif, Ketua Fraksi PPP Dendi.

 

Sebagaimana diketahui mosi tak percaya itu telah berujung keputusan rekomendasi BK yang mengusulkan pemberhentian Dodi Hendra sebagai Ketua DPRD Kabupaten Solok. 

Polemik dinamika politik itupun kian bertambah parah. Tontonan bak drama berepisode-episode bagi tak ada putusnya.

 

Keputusan yang lahir dari BK itu mendapat perlawanan dari Dodi Hendra dan Gerindra sendiri yang keberatan terhadap keputusan BK tersebut. 


Dalam polemik itupun Mahasiswa atas nama Aliansi Mahasiswa Solok se-indonesia ( AMS) turut turun gunung menengahi pertikaian dengan lahirnya surat terbuka yang meminta Bupati dan Ketua DPRD berdamai agar Kabupaten Solok dimata publik tidak bertambah tercoreng.


Bersambung .....

Penulis : Oky Adhadi

Posting Komentar

0 Komentar