Alcibiades - Pengkhianat yang terbuang.

Pernahkah anda mendengar sebuah filosofi yang berbunyi; Ketika pertarungan selesai, fitnah menjadi senjata bagi yang kalah. Iya. itu sebuah filosofi terkenal dari seorang filsuf zaman dulu dari yunani "Socrates". Tapi saat ini kita tidak membahas filsuf terkenal itu, tetapi muridnya yang cukup jarang terdengar di buku sejarah. Dia adalah "Alcibiades".

Klik tombol Play di bawah ini, dan biarkan kami yang membacakan berita ini untuk anda.
Alcibades being taught by Socrates, François-André Vincent
Alcibades being taught by Socrates, François-André Vincent

Alcibiades lahir di Athena, keponakan dari pemimpin Yunani "Pericles" dan secara singkat sempat menjadi murid filsuf besar Socrates. Tetapi, belajar dari Socrates tidak membuat dia mendapatkan keseimbangan ataupun keharmonisan, malah menjadi seorang pemimpin perang yang mengabaikan semua kode etik moral apapun.

Socrates sebenarnya sudah melihat, kalau Alcibiades ini tidak bermoral. Namun, karena memiliki hutang nyawa, menyelamatkannya saat perang di Battle of Delium sekitar 424 Sebelum Masehi, Socrates pun mau mengangkat Alcibiades menjadi salah satu muridnya. 

Alcibiades memang memiliki karir yang baik di ketentaraan, karena wataknya yang keras dan kejam, dan juga karena rekomendasi sebagai "kemenakan Raja", dia pun menjadi salah satu dari sepuluh jenderal besar Athena, di awal-awal peperangan melawan kerajaan kuat Sparta.

Perang Fitnah mulai menyebar.

Alcibiades, sebagai seorang pimpinan militer yang kejam ini, mulai dapat perlawanan politik dari rekan rekan sesama jendral. Tetapi, karena koneksi sebagai kemenakan Raja, dia masih aman. Sebaliknya, pada peperangan selanjutnya, Pamannya terbunuh saat perang melawan kerajaan Sparta.

Kehilangan koneksi, lawan politik mulai memainkan peran. Pertama untuk menyingkirkannya, Alcibiades dikirim ke peperangan bringas di Sisilia, untuk menyerang kota Syracuse yang saat itu dijaga pasukan Sparta yang kuat. Saat dia di perangan, disebarlah Fitnah, kalau dia adalah orang yang melawan terhadap Dewa Hermes, Dewanya bangsa Yunani saat itu. 

Patung Dewa Hermes, Dewa Bangsa Yunani zaman dulu, yang identik dengan Patung Pria tidak berpakaian, yang dimutilasi Alcibiades dibagian kemaluannya, sehingga Alcibiades dikatakan sebagai orang yang tidak percaya Dewa. ( photo - wiki)

Kehilangan kepercayaan dari kelompoknya sendiri, Alcibiades pun berpindah haluan. Menawarkan jasanya kepada Bangsa Sparta, yang notabene adalah musuh bangsanya. Raja Sparta yang awalnya mau menerima karena keterampilan perangnya. Tetapi, Alcibiades sang murid Socrates ini memang kurang bermoral, diterima sebagai tamu pembelot, malah dia merayu istri Sang Raja, dan mereka pun ketahuan selingkuh. Murka akan perangai Alciades, Raja Sparta pun menyerang, dan mengusirnya.

Pengkhianatan Berantai.

Alcibiades, yang terbuang dari Athena, karena fitnah lawan politik, yang kemudian mencoba merapat ke Sparta, namun karena kelakuannya pun dia dibuang. Berpindah lagi, berkhianat lagi, ketempat yang lain. Dengan prinsip “Musuh dari Musuh, adalah Kawan”. Alcibiades pun membelot ke Persia.

Apa yang terjadi setelah itu. Kerajaan Persia yang dikenal lebih santun, menerima dengan baik Mantan Jendral Athena yang berkhianat dan membelot ke Sparta. Namun, Akhlak memang menentukan segalanya, sekali penghianat tetap penghianat, Alcibiades bermuka dua.

Kekuatan yang diberikan kerajaan Persia, malah dia gunakan untuk menyerang Sparta atas nama Athena. Membuat dua kerajaan besar itu menjadi perang besar. Walau dia berhasil menghancurkan salah satu armada besar sparta, sekitar tahun 407 Sebelum Masehi masa itu di Cyzicus.

Jadi Pahlawan Athena lagi.

Karena telah membuktikan diri kepada bangsanya di Athena, kalau semua pengkhianatannya adalah untuk bangsa sendiri, dia disambut menjadi Pahlawan lagi. Dan diberikan kesempatan untuk menghapus dosa, dengan mendapatkan kedudukan politik lagi.

Walau membelot, Alcibiades masih dipercaya sebagian tokoh kerajaan Persia saat itu, sehingga terjalinlah kerjasama militer dan ekonomi antara Persia dan Athena, untuk melawan kerajaan besar Sparta. Musuh bebuyutan saling berkoalisi, demi menjatuhkan lawan kuat mereka.

Kalah dari Sparta.

Kota Athena, walau saat itu mendapat perlindungan dari kerajaan Persia, kalah oleh Sparta. Alcibiades  sempat kabur dan mengasingkan diri ke Kerajaan Persia di Asia Kecil. Pemimpin sparta yang sudah terlanjur dendam, karena kecemburuan istrinya yang dirayu dan selingkuh dengan Alcibiades, mengajukan tuntutan Alcibiades sebagai Upeti Perang, atau Sparta akan menghancurkan Athena. 

Ilustrasi Pasukan Sparta yang kuat. (photo online media)

Takut akan perang lebih besar, rekan politik mereka pun memohon kepada Kerajaan Persia, yang saat itu melindungi Alcibiades, untuk menyerahkannya. Pada awalnya, kerajaan Persia menolak, namun tekanan demi tekanan, kuatir pasukan Sparta datang ke Persia, dan perang hanya karena seorang penghianat bernama Alcibiades. Persia pun mengeksekusi Alcibiades, sebagai korban upeti perang.


Jadi, itulah sekilas kehidupan dari seorang pemimpin besar dari masa lalu, terlahir dari keluarga kerajaan, menjadi murid seorang guru yang hebat, namun karena moral yang kurang baik, disingkirkan dengan fitnah oleh kawan seiring, dan terpaksa menghalalkan segala cara untuk bertahan. Namun, tipe manusia seperti tidak akan mendapat tempat disisi manapun. 


Disadur oleh Surya, dari beberapa sumber online, untuk menjadi bahan renungan Bangsa Indonesia.


Klik tombol Play di bawah ini, dan biarkan kami yang membacakan berita ini untuk anda.




Posting Komentar

0 Komentar